03 Februari 2010
06 Desember 2009
Monitoring Program RSBI
category : Home, PengumumanKegiatan yang bertempat di ruang panitia SMP Negeri 1 Cilacap itu dihadiri oleh kepala sekolah para waka dan beberapa staf sekolah. Acara dibuka pada pukul 08.00 yang diawali dengan perkenalan singkat dilanjutkan pemutaran profil sekolah oleh tim Pengembang IT. Setelah itu, dilanjutkan dengan wawancara sesuai dengan standardisasi masing-masing tim, yang kemudian dilanjutkan dengan school tour mulai dari laboratorium multimedia sampai ke bagian – bagian yang lain.
Pada kunjungannya kali ini, selain melihat fasilitas – fasilitas yang ada, Petugas Monitoring dan Evaluasi Direktorat Pembinaan SMP Pusat juga melakukan tanya-jawab seputar program yang sedang dijalankan dan juga melihat hasil karya dari para siswa. Kegiatan monitoring ini diakhiri pukul 13.00 dengan bersalaman bersama dengan segenap staf SMP Negeri 1 Cilacap. (gunawan)
15 November 2009
Program Sister School ala Spensa
category : Home, Pengumuman
Salah satu ciri yang dikembangkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 1 Cilacap adalah menjalin sekolah saudara (sister school) di kabupaten lain. Salah satunya adalah RSBI SMP di Kabupaten Banyumas.Tujuannya untuk tentu saja untuk saling berkunjung, berbagi pengalaman sebagaimana layaknya saudara.
Karena institusi yang bersaudara adalah sekolah, maka personal yang ada di dalamnya yang akan saling berinteraksi, dimulai dari kepala sekolah, wakasek, guru dan murid-murid.
Mencari dan mengajak sebuah sekolah untuk menjadi saudara bukan pekerjaan yang gampang, sebab butuh biaya, energi, arah yang jelas dan tentu saja melibatkan steckholder pendidikan yang ada. (gunawan)
09 November 2009
Tip Mengembangkan Kerjasama Sister Schools
category : Home, Pengumuman
Panduan penjaminan mutu sekolah bertaraf internasional Departemen Pendidikan Nasional menetapkan satu indikator mutu operasional sekolah adalah melaksanakan kegiatan sister school. Puncak dari keberhasilan itu ditandai dengan pelaksanaan kerja sama kemitraan dengan sekolah di negara-negara yang berkunggulan dalam bidang pendidikan dalam meningkatkan mutu lulusan sehingga sekolah menghasilkan mutu yang setara dengan sekolah unggul lainnya. Dalam berbagai forum diskusi terdapat fenomena yang unik adalah besarnya minat pengelola sekolah pada saat ini untuk melaksanakan kegiatan kerja sama kemitraan internasional melebihi minat pengelola sekolah pada peningkatan mutu indikator yang lainnya. Hal unik lain adalah kolaborasi internasional itu ditafsirkan sebagai hubungan kemitraan yang berguna sebagai wadah menimba informasi atau kemaslahatan lain yang dapat siswa peroleh melalui kegiatan bersama. Konsep hubungan menjadi tidak sejajar karena secara psikologis pengelola sekolah menempatkan diri kita tidak lebih baik dari mereka.
Para pendidik dari sini ingin belajar dari negara lain. Bahkan muncul harapan bahwa dari sana akan diperoleh bantuan pencerahan, bukan berpikir apa yang sebaiknya kita berikan kepada mereka sehingga mereka memperolah sesuatu yang khas yang tidak dapat mereka penuhi jika tidak kerja sama dengan kita.
Atas dasar pikiran itu banyak sekolah yang membangun hubungan sister schools sebatas saling kunjung dengan target O, artinya para pendidik di sini pergi ke luar, mengagumi apa yang baik di sana, O….seperti itulah penampilan sekolah di sana!
Apakah Sister Schools?
Sister school adalah serangkaian kegiatan kerja sama antara dua lembaga pendidikan atau lebih yang berada dalam naungan yayasan atau penyelenggara yang sama atau berbeda baik dalam satu negara atau dalam ruang lingkup global yang mengembangkan kesamaan prinsip pada peningkatan mutu perencanaan, disain program, maupun meningkatkan kerja sama dalam memfasilitasi siswa mengembangkan potensi kolaborasi pada tingkat nasional atau global. Wikipedia menyatakan bahwa melalui kegiatan sister school sekolah dapat mengembangkan kerja sama kemitraan tingkat internasional.
Mengapa Sister Schools?
Teknologi informasi dan komunikasi telah mengintegrasikan dunia sehingga kerja sama antarnegara menjadi tanpa batas. Kerja sama antara negara yang berada dalam hamparan zona waktu yang sama telah meningkatkan kerja sama antar bangsa yang sangat dinamis. Perdagangan antar bangsa telah dipercepat dengan teknologi transportasi yang cepat sehingga perpindahan barang dari satu atau antar negara menunjukkan mobilitas yang terus meningkat.
Generasi muda telah terintegrasi pada budaya dunia melalui panggung televisi yang diintegrasikan dengan akses internet. Penggunaan hand phone yang semakin masif yang juga menjadi bagian dari jaringan hiburan dunia telah menegaskan bahwa dunia kini telah menjadi satu, dan hiburan dapat diperoleh anak muda di mana pun, kapan pun, mengenai apa pun yang disukainya. Begitu banyak pilihan.
Olah raga telah berubah menjadi industri yang tidak kalah dengan industri makanan, minuman, pakaian, persenjataan, bahkan belakangan yang tidak kalah besar ialah industri mainan anak-anak.
Produktivitas juga telah ditingkatkan dengan bantuan teknologi informasi di mana manusia yang berada di zona waktu yang berbeda dapat bekerja sama menghadapi pekerjaan yang sama. Perbedaaan tempat dan waktu menjadi bukan masalah lagi.
Meningkatkan mutu daya adaptasi manusia dalam era teknologi informasi dan komunikasi serta dalam persaingan yang semakin ketat, maka daya berkolaboarasi menjadi bagian kritis dari kehidupan global. Kondisi itu telah menempatkan manusia pada satu pilihan berkolaborasi dan berkompetisi adalah realita yang tidak dapat dielakkan, menjadi sebuah keniscayaan.
Sister school memungkinkan siswa dan guru dari suatu sekolah mengenal budaya dan metode pembelajaran yang dipergunakan di sekolah lain. Hal ini dapat memberikan suatu gagasan mengenai bagaimana meningkatkan mutu pengajaran di sekolah. Baik siswa maupun guru dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mengembangkan kualitas belajar mengajar. Program yang dapat dilakukan dalam sister school di antaranya adalah : berbagi pengetahuan dan pengalaman serta mengembangkan kualitas belajar mengajar.
- Sahabat pena atau berkirim email : Baik siswa maupun guru di sekolah dapat berbagi cerita tentang cara pengajaran, kehidupan, dan budaya di sekolah masing-masing. Saling berbagi pelajaran, tugas, hasil karya, informasi musik dan film yang sedang berkembang di wilayah masing-masing.
- Pengayaan metode belajar mengajar : Sister school sebagai sarana berdiskusi dan berbagi ide mengenai metode belajar di kelas. Hal ini dapat dilakukan melalui penyelenggaraan proyek bersama.
- Pertukaran Siswa
- Pertukaran Guru
Prasyarat apa harus dipenuhi?
Untuk mengembangkan kegiatan sister school diperlukan prasyarat utama; yaitu sekolah:
- memiliki kemampuan berinteraksi secara lisan maupun tulisan dalam bahasa Inggris.
- memiliki sambungan ke jaringan internet
- memiliki informasi yang mamadai untuk dipertukarkan, misalnya sistem informasi sekolah telah didokumentasikan dalam bentuk dokumen elektronik.
- memiliki biaya jika akan melakukan kunjungan langsung
- memiliki keunggulan tertentu sebagai bahan kerja sama
Contoh kesiapan kerja sama mengembangkan kesenian lokal, kerajinan lokal, olah raga yang khas, kegaitan pariwisata yang khas yang tidak dapat diperoleh oleh sekolah mitra sejajar di luar negara. Contoh seperti ini diperlihatkan dalam kerja sama antara Tokyo dengan New York, sekolah bekerja sama dengan sekolah mitra untuk meningkatkan pariwisata antar kedua negara. Hal yang hampir sama dilakukan antara SMAN 4 Denpasar dengan Korea Selatan, di Bali orang Korea mendapat layanan berlajar tentang berladang dan bersawah. Guru dari Bali mendapat pelayanan meningkatkan kinerja mengjarnya di Korea. Hubungan seperti ini dilakukan dalam kerja sama pertukaran. Hal seperti ini dilakukan di banyak sekolah di Indonesia.
Yang berbeda seperti pada SMAN 1 Subang Jawa Barat. Tentu ini bukan satu-satunya sekolah yang melakukan hal yang sama. Kerja sama yang sangat mendalam dilakukan melalui jaringan internet. Para siswa melalukan banyak proyek yang disepakati dengan sekolah mitra internasionalnya. Contohnya siswa mengerjakan proposal penelitian sampai pada kerja sama menyelesaikan karya tulis. Siswa Subang Jawa Barat menyelesaikan karya tulis yang dipecah dengan siswa dari berbagai belahan bumi. Kunjungan langsung tidak selalu perlu.
Dari kasus di atas, kita memahami paling utama adalah sekolah memiliki peluang untuk berkomunikasi dengan sekolah mitra. Sebelum menggunakan model kunjungan lansung ada baiknya sekolah melakukan komunikasi melalui internet terlebih dahulu. Untuk mengembangka hubungan seperti ini anda tentu dapat berkomunikasi dengan lembaga kerja sama luar negeri (Biro KLN Depdiknas) untuk mendapat informasi seperti mengenai kegiatan I-earn, kerja sama ASEAN, dan sebagainya.
Bagaimana Memulainya?
Pada intinya yang diharapkan dari sister school adalah terjalinnya kemitraan di antara dua sekolah sehingga mampu meningkatkan mutu pengajaran di sekolah masing-masing. Kemitraan sejenis ini tidak harus langsung dengan sekolah dari negara yang berbeda, apalagi di Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau. Kebudayaan dan cara pengajaran di masing-masing daerah tentunya sudah memberikan keragaman tersendiri.
Kuatkan dulu kolaborasi dengan sekolah unggul dalam negeri. Kembangkan sistem informasi yang dapat mendukung dan carilah kekuatan khus yang dapat menjadi modal kerja sama dengan sekolah lain. Kekuatan itu harus unik sehingga sekolah lain membutuhkannya.
Contoh sederhana jika sekolah akan melakukan kerja sama dengan Singapura. Teknologi sekolah di sana merujuk pada perkembangan negara maju seperti Jerman. Salah satu sekolah di Indonesia memiliki ciri khas yang sangat kuat dalam meningkatkan efektivitas belajar. Kelebihan-kelebihan itu dapat diangkat ke dalam struktur informasi dan dipertukarkan sebagai dasar untuk melakukan kegiatan bersama. Bisa jadi apa yang akan ditawarkan sekolah ke Singapura jika mereka mau ditukar dengan pendidikan berbasis laut, berbasis hutan, atau budaya. Pilih hal yang belum mereka miliki. Oleh karena itu kenalilah kebutuhan sekolah calon mitra sehingga kita diharapkan akan dapat memenuhi kebutuhannya.
Jadi sister school bisa saja dilaksanakan antara sekolah di Indonesia dengan sekolah di luar negeri atau antara sekolah di Indonesia.
Sebagai contoh sister school dengan sekolah di luar negeri diantaranya adalah :
- Al-Azhar Syifa Budi dengan Kilmore International School di Victoria, Australia. Bentuk kerjasama yang telah berjalan selama ini mencakup pertukaran pelajar, guru serta kurikulum. (http://www.alazhar.syifabudi.net/index.php?Itemid=27&id=26&option=com_content&task=view)
- SMAN 1 Subang dengan Pioneer Secondary School Singapore. Kerjasama mencakup berbagai bentuk kegiatan untuk pengembangan sistem pendidikan, diantaranya pertukaran / kunjungan guru dan pelajar, pelatihan dan peningkatan sistem pendidikan / pembelajaran dan kerjasama bidang lainnya. (http://sman1subang.sch.id/html/index.php?mn=&id=berita&kode=7)
Sedangkan sister school antara sekolah di dalam negeri diantaranya adalah :
- Sister school antara BPK Penabur Jakarta dengan Bandar Lampung yang diantaranya melakukan kegiatan bersama berupa pembinaan guru, pembinaan siswa, sharing KBM, maupun program home stay untuk para siswanya. (http://www.bpkpenabur.or.id/files/21_2.pdf )
- Sister school antara Al-Azhar Syifa Budi dengan SMAN 60 (http://www.alazhar.syifabudi.net/index.php?Itemid=27&id=26&option=com_content&task=view).
Rekomendasi
Sebelum melaksanakan kerja sama kemitraan dengan sekolah di luar negeri, lakukan kerja sama kemitraan dengan sekolah di dalam negeri dahulu. Jika kita telah belajar membangun kerja sama yang produktif di sini barulah meningkat pada kerja sama internasional. Jangan memulai kerja sama dengan sekolah dengan dari luar negeri sebelum dengan sekolah mitra di dalam saja belum dilakukan.
Kalau itu tujuannya ingin ke luar negeri, tak perlu susah-susah membangun sister school, cukup sediakan dana 3 juta, berdarmawisatalah di Singapura hingga ke Kualalumpur dan pasti juga bisa melihat sekolah. Yang cukup menyenangkan kita dapat mengetahui pula bahwa kuala itu berarti sungai, lumpur itu ….ya lumpur seperti yang biasa ada di sungai di mana pun, cuma di sana ada menara kembarnya. (G)
sumber: http://gurupembaharu.com/pembinaan-siswa/tip-mengembangkan-kerjasama-sister-schools/
04 November 2009
Program Keagamaan
category : Home, PengumumanRSBI-SMP Negeri 1 Cilacap menyelenggarakan program pengembangan tambahan dalam kegiatan keagamaan dengan tujuan meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan agama, dapat menjalani kehidupannya sehari-hari sebagai siswa secara efektif, kreatif, dan dinamis, serta memiliki kecakapan hidup untuk masa depan karir dalam: Beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME, Perwujudan diri kearah dimensi spiritual, Pengambilan keputusan berdasarkan IQ, EQ, dan SQ, dan Pengaktualisasian diri secara optimal.
Kegiatan
Adapun kegiatan program tersebut adalah:
- Shalat Duha
- Shalat Dzuhur berjamaah
- Sholat Jum'at
- Membaca Al-Qur'an (dengan pendekatan tutorial system)
- Pengajian terjemah Al-Qur'an (dengan pendekatan lecturing dan question-answer system)
- Tausiyah (dengan pendekatan problem based learning dan lecturing)
- Bagi non-muslim membahas kitab sucinya (dengan pendekatan peer tutorial system)
Pelaksanaan dan Penilaian Kegiatan Keagamaan
- Kegiatan pengembangan keagamaan dapat dilaksanakan secara rutin, spontan dan terprogram. Rutin dan spontan dapat dilakukan oleh warga sekolah, sedangkan terprogram dilaksanakan melalui perencanaan oleh guru BK/guru mata pelajaran maupun tenaga pendidik lainnya sesuai dengan program yang akan dilaksanakan.
- Penilaian dapat dilakukan dengan mengamati/observasi terhadap perilaku siswa sehari-hari dan pada waktu melaksanakan kegiatan. (gunawan)
02 November 2009
Sang Juara
category : Home, PengumumanAdapun kriteria penilaian Story Telling yakni Daya Pukau meliputi penggunaan alat bantu, kesesuaian pakaian dan penggunaan bahasa tubuh; Ekspresi meliputi ketepatan bahasa, penekanan dan lagu serta kelancaran kalimat; dan Komunikasi meliputi pesan tersampaikan dengan baik dan keruntunan cerita.
Hasil dari lomba ini sangat memuaskan peserta, terutama peserta dari RSBI SMP Negeri 1 Cilacap, yang dapat menduduki peringkat ke-1 untuk lomba Inovasi Teknologi dan peringkat ke-2 untuk lomba Story Telling Tingkat Kabupaten Cilacap. (gunawan)
Klik disini untuk melanjutkan »»
01 November 2009
Meningkatkan Kemampuan Baca-Tulis Al Qur'an
category : Home, PengumumanHal ini didasarkan pada persoalan masih banyaknya siswa yang belum menguasai kemampuan membaca dan menulis Al Qur'an secara baik dan benar.
Tidak hanya itu, di kalangan guru dan karyawan RSBI SMP Negeri 1 Cilacap, juga dijadwalkan secara khusus pada hari jum'at untuk mengikuti kegiatan membaca Al Qur'an (surah Yasin) dan do'a bersama-sama dengan siswa -sebelum mendirikan sholat Jum'at. Kegiatan ini ternyata memberikan dampak yang sangat positif bagi perkembangan sekolah, terutama menghadapi tantangan yang berat dalam upayanya meningkatkan kinerja (etos kerja) dan mutu pendidikannya. (gunawan)
31 Oktober 2009
Sosialisasi Program RSBI Untuk Orang Tua/Wali Murid
category : Home, PengumumanNampak pula di ujung ruangan beberapa Wali Kelas 8 dan 9, dengan wajah sumringah turut mendampingi orang tua siswa. Dengan senyumnya yang khas, Bapak Sunardi membuka pertemuan dan menjelaskan bahwa undangan ke sekolah kali ini adalah sosialisasi Program RSBI kepada Orang Tua/Wali Murid.
Bapak Sunardi berharap, setelah sosialisasi ini orang tua mengetahui apa sebenarnya program RSBI itu, dan kenapa program seleksi kelas RSBI berbeda dengan kelas reguler, harus ada syarat-sayarat tertentu, dan semuanya memang sudah diatur dari Dirjen. Lebih lanjut, beliau mejelaskan bahwa Sekolah RSBI adalah sekolah nasional ditambah dengan X (materi plus). Jadi kurikulum yang dipakai adalah kurikulum SNP (Standard Nasional Pendidikan) tetapi ada tambahannya X yang jumlahnya ada empat. Plus yang pertama adalah Pengayaan dan pendalaman materi khususnya MIPA, Plus yang ke-2 adalah pembelajaran MIPA wajib mengunakan dua bahasa yaitu Enggris dan Indonesia (bilingual), sedangkan TI sebenarnya tidak wajib, namun demikian, di SMPN 1 Cilacap pelajaran TI juga diharuskan bilingual. Plus yang ke 3 adalah Penguatan pembelajaran di bidang ICT, sehingga diharapkan siswa tidak "gaptek" lagi dan terbiasa dengan berbagai program komputer. Sedangkan Plus yang ke empat adalah pengembangan budaya/kultur.
Lanjut Beliau, Program RSBI bukanlah mencetak lulusan yang akan disekolahkan ke luar negeri tetapi lulusan RSBI ini memiliki daya saing yang sama dengan lulusan sekolah luar negeri. (gunawan)
30 Oktober 2009
Kegiatan Persiapan ISO 9001:2008
category : Home, Pengumuman28 Oktober 2009
Supervisi ala RSBI SMPN 1 Cilacap
category : Home, Pengumuman
Seiring dengan berjalannya waktu, kemajuan teknologi sangat pesat dan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Seperti yang terdapat di kelas RSBI SMPN 1 Cilacap yang telah memasang kamera pemantau (CCTV) di setiap kelas, maka hal itu mempermudah bagi kepala sekolah untuk memantau kegiatan (supervisi) di kelas RSBI. Cukup dengan menyalakan monitor yang terdapat di ruang kepala, maka kegiatan supervisi dapat dilaksanakan. Tidak hanya kepala sekolah saja yang dapat memantau kelas RSBI, bapak dan ibu guru (wali kelas) juga dapat memantau perkembangan proses belajar mengajar di kelasnya. (gunawan)26 Oktober 2009
Pengertian Penjaminan Mutu Pendidikan Bertaraf Internasional
category : Home
Sebagai suatu sistem pendidikan, setiap sekolah harus memenuhi berbagai komponen yang sekaligus menjadi sasaran untuk pencapaian tujuan pendidikan itu sendiri yaitu terdiri: komponen akreditasi, komponen kurikulum, komponen proses pembelajaran, komponen penilaian, komponen pendidik, komponen tenaga kependidikan, komponen sarana dan prasarana, dan komponen pengelolaan serta komponen pembiayaan pendidikan. Dalam praktik penyelenggaraannya, semua komponen tersebut merupakan obyek penjaminan mutu pendidikan. Maksudnya adalah bahwa mutu pendidikan yang akan dicapai oleh sekolah obyeknya adalah komponen-komponen pendidikan tersebut. Tingkatan dan kualifikasi mutu pendidikan yang akan dicapai sebagai SBI minimal adalah bertaraf atau setara dengan tingkatan dan kualifikasi mutu pendidikan dari negara-negara anggota OECD, negara maju lain, dan atau sekolah bertaraf internasional lain, baik dari dalam maupun luar negeri.Pengakuan akan standar keinternasionalan SBI oleh masyarakat atau dunia internasional antara lain ditunjukkan melalui akreditasi dan sertifikasi sekolah sebagai sistem dan/atau oleh komponen-komponen pendidikan yang ada. Dengan demikian, sekolah yang dirintis menjadi SBI harus memenuhi kriteria internasional terhadap masing-masing komponen pendidikan tersebut. Jaminan yang dapat ditunjukkan oleh SBI bahwa sebagai suatu sistem (output-proses-input) dan/atau komponen-komponen pendidikannya telah bertaraf internasional antara lain melalui berbagai strategi, prestasi akademik dan non akademik, kerjasama dengan pihak lain, dan sebagainya yang semuanya memiliki ciri-ciri keinternasionalan.
Sebagai suatu sistem, penjaminan akan mutu internasional dapat ditunjukkan oleh sekolah dengan karakteristik sebagai berikut:
a. Output/lulusan SBI memiliki kemampuan-kemampuan bertaraf nasional plus internasional sekaligus, yang ditunjukkan oleh penguasaan SNP Indonesia dan penguasaan kemampuan-kemampuan kunci yang diperlukan dalam era global. SNP merupakan standar minimal yang harus diikuti oleh semua satuan pendidikan di Indonesia, namun tidak berarti bahwa output satuan pendidikan tidak boleh melampui SNP. SNP boleh dilampaui asal memberikan nilai tambah yang positif bagi pengaktualan potensi peserta didik, baik intelektual, emosional, maupun spiritualnya. Selain itu, nilai tambah yang dimaksud harus mendukung penyiapan manusia-manusia Indonesia abad ke-21 yang kemampuannya berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, beretika global, dan sekaligus berjiwa dan bermental kuat, integritas etik dan moralnya tinggi, dan peka terhadap tuntutan-tuntutan keadilan sosial. Sedang penguasaan kemampuan-kemampuan kunci yang diperlukan dalam era global merupakan kemampuan-kemampuan yang diperlukan untuk bersaing dan berkolaborasi secara global dengan bangsa-bangsa lain, yang setidaknya meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir yang canggih serta kemampuan berkomunikasi secara global.
b. Proses penyelenggaraan SBI mampu mengakrabkan, menghayatkan dan menerapkan nilai-nilai (moral, ekonomi, seni, solidaritas, dan teknologi mutakhir dan canggih), norma-norma untuk mengkonkretisasikan nilai-nilai tersebut, standar-standar, dan etika global yang menuntut kemampuan bekerjasama lintas budaya dan bangsa. Selain itu, proses belajar mengajar dalam SBI harus pro-perubahan yaitu yang mampu menumbuhkan dan mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan baru, “a joy of discovery”, yang tidak tertambat pada tradisi dan kebiasaan proses belajar di sekolah yang lebih mementingkan memorisasi dan, recall dibanding daya kreasi, nalar dan eksperimentasi peserta didik untuk menemukan kemungkinan baru. Proses belajar mengajar SBI harus dikembangkan melalui berbagai gaya dan selera agar mampu mengaktualkan potensi peserta didik, baik intelektual, emosional maupun spiritualnya sekaligus. Penting digarisbawahi bahwa proses belajar mengajar yang bermatra individual-sosial-kultural perlu dikembangkan sekaligus agar sikap dan perilaku peserta didik sebagai makhluk individual tidak terlepas dari kaitannya dengan kehidupan masyarakat lokal, nasional, regional dan global. Bahasa pengantar yang digunakan dalam proses belajar mengajar adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing (khususnya Bahasa Inggris) dan menggunakan media pendidikan yang bervariasi serta berteknologi mutakhir dan canggih, misalnya laptop, LCD, dan VCD.
c. Oleh karenanya, tafsir ulang terhadap praksis-praksis penyelenggaraan proses belajar mengajar yang berlangsung selama ini sangat diperlukan. Proses belajar mengajar di sekolah saat ini lebih mementingkan jawaban baku yang dianggap benar oleh guru, tidak ada keterbukaan dan demokrasi, tidak ada toleransi pada kekeliruan akibat kreativitas berpikir karena yang benar adalah apa yang dipersepsikan benar oleh guru. Itulah yang disebut sebelumnya sebagai memorisasi dan recall.
SBI harus mengembangkan proses belajar mengajar yang: (1) mendorong keingintahuan (a sense of curiosity and wonder), (2) keterbukaan pada kemungkinan-kemungkinan baru, (3) prioritas pada fasilitasi kemerdekaan dan kreativitas dalam mencari jawaban atau pengetahuan baru (meskipun jawaban itu salah atau pengetahuan baru dimaksud belum dapat digunakan); dan (4) pendekatan yang diwarnai oleh eksperimentasi untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.
d. Input adalah segala hal yang diperlukan untuk berlangsungnya proses dan harus memiliki tingkat kesiapan yang memadai. Input penyelenggaraan SBI yang ideal untuk menyelenggarakan proses pendidikan yang bertarap internasional meliputi siswa baru (intake) yang diseleksi secara ketat dan masukan instrumental yaitu kurikulum, pendidik, kepala sekolah, tenaga pendukung, sarana dan prasarana, dana, dan lingkungan sekolah. Intake (siswa baru) diseleksi secara ketat melalui saringan rapor SD, ujian akhir sekolah, scholastic aptitude test (SAT), kesehatan fisik, dan tes wawancara. Siswa baru SBI memiliki potensi kecerdasan unggul, yang ditunjukkan oleh kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, dan memiliki bakat dan minat. Sementara itu, SBI memiliki instrumental inputs ideal sebagai berikut.
e. Kurikulum diperkaya (diperkuat, diperluas dan diperdalam) agar memenuhi standar isi SNP plus kurikulum bertaraf internasional yang digali dari berbagai sekolah dari dalam dan dari luar negeri yang jelas-jelas memiliki reputasi internasional. Guru harus memiliki kompetensi bidang studi (penguasaan matapelajaran), pedagogik, kepribadian dan sosial bertaraf internasional, serta memiliki kemampuan berkomunikasi secara internasional yang ditunjukkan oleh penguasaan salah satu bahasa asing, misalnya bahasa Inggris. Selain itu, guru memiliki kemampuan menggunakan ICT mutakhir dan canggih. Kepala sekolah harus memiliki kemampuan manajemen yang tangguh, kepemimpinan, organisasi, administrasi, dan kewirausahaan yang diperlukan untuk menyelenggarakan SBI, termasuk kemampuan komunikasi dalam bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Tenaga pendukung, baik jumlah, kualifikasi maupun kompetensinya memadai untuk mendukung penyelenggaraan SBI. Tenaga pendukung yang dimaksud meliputi pustakawan, laboran, teknisi, kepala TU, tenaga administrasi (keuangan, akuntansi, kepegawaian, akademik, sarana dan prasarana, dan kesekretariatan. Sarana dan prasarana harus lengkap dan mutakhir untuk mendukung penyelenggaraan SBI, terutama yang terkait langsung dengan penyelenggaraan proses belajar mengajar, baik buku teks, referensi, modul, media belajar, peralatan, dsb. Organisasi, manajemen dan administrasi SBI memadai untuk menyelenggarakan SBI, yang ditunjukkan oleh: (1) organisasi: kejelasan pembagian tugas dan fungsi, dan koordinasi yang bagus antar tugas dan fungsi; (2) manajemen tangguh, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, koordinasi dan evaluasi; dan (3) administrasi rapi, yang ditunjukkan oleh pengaturan dan pendayagunaan sumberdaya pendidikan secara efektif dan efisien. Lingkungan sekolah, baik fisik maupun nir-fisik, sangat kondusif bagi penyelenggaraan SBI. Lingkungan nir-fisik (kultur) sekolah mampu menggalang konformisme perilaku warganya untuk menjadikan sekolahnya sebagai pusat gravitasi keunggulan pendidikan yang bertaraf internasional. Secara tabuler, standar SBI secara umum untuk SMP yang meliputi output, proses, dan input.
posted by gunawan trihantoro
sumber: http://www.idonbiu.com/2009/07/pengertian-penjaminan-mutu-pendidikan.html Klik disini untuk melanjutkan »»
International Organization for Standardization (ISO)
category : Home, Pengumuman- ISO beralih ke halaman ini. Untuk Iso, lihat Iso.
Organisasi Internasional untuk Standardisasi (bahasa Inggris: International Organization for Standardization disingkat ISO atau Iso) adalah badan penetap standar internasional yang terdiri dari wakil-wakil dari badan standar nasional setiap negara. Pada awalnya, singkatan dari nama lembaga tersebut adalah IOS, bukan ISO. Tetapi sekarang lebih sering memakai singkatan ISO, karena dalam bahasa Yunani isos berarti sama (equal). Penggunaan ini dapat dilihat pada kata isometrik atau isonomi.
Didirikan pada 23 Februari 1947, ISO menetapkan standar-standar industrial dan komersial dunia. ISO, yang merupakan lembaga nirlaba internasional, pada awalnya dibentuk untuk membuat dan memperkenalkan standardisasi internasional untuk apa saja. Standar yang sudah kita kenal antara lain standar jenis film fotografi, ukuran kartu telepon, kartu ATM Bank, ukuran dan ketebalan kertas dan lainnya. Dalam menetapkan suatu standar tersebut mereka mengundang wakil anggotanya dari 130 negara untuk duduk dalam Komite Teknis (TC), Sub Komite (SC) dan Kelompok Kerja (WG).
Meski ISO adalah organisasi nonpemerintah, kemampuannya untuk menetapkan standar yang sering menjadi hukum melalui persetujuan atau standar nasional membuatnya lebih berpengaruh daripada kebanyakan organisasi non-pemerintah lainnya, dan dalam prakteknya ISO menjadi konsorsium dengan hubungan yang kuat dengan pihak-pihak pemerintah. Peserta ISO termasuk satu badan standar nasional dari setiap negara dan perusahaan-perusahaan besar.
ISO bekerja sama dengan Komisi Elektroteknik Internasional (IEC) yang bertanggung jawab terhadap standardisasi peralatan elektronik.
Penerapan ISO di suatu perusahaan berguna untuk:
- Meningkatkan citra perusahaan
- Meningkatkan kinerja lingkungan perusahaan
- Meningkatkan efisiensi kegiatan
- Memperbaiki manajemen organisasi dengan menerapkan perencanaan, pelaksanaan, pengukuran dan tindakan perbaikan (plan, do, check, act)
- Meningkatkan penataan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan dalam hal pengelolaan lingkungan
- Mengurangi resiko usaha
- Meningkatkan daya saing
- Meningkatkan komunikasi internal dan hubungan baik dengan berbagai pihak yang berkepentingan
- Mendapat kepercayaan dari konsumen/mitra kerja/pemodal
Lihat pula
Pranala luar
posted by gunawan trihantoro
sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/ISO Klik disini untuk melanjutkan »»
25 Oktober 2009
Field Trip ke Jogjakarta, Candi Prambanan, dan The Ramayana Ballet
category : Home
Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis, 22 November 2009 dengan melibatkan kurang lebih 234 orang siswa SMP Negeri 1 Cilacap, kelas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan bahasa (internasional), seni dan budaya kepada siswa-siswi tentang pentingnya menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan nasional yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya.Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, para siswa telah diberikan beberapa pemahaman di ruang kelas mengenai peran penting bahasa, seni dan budaya dan fungsinya di kota Yogyakarta. Model pelaksanaan kegiatan ini adalah pembelajaran out door dan praktek lapang (native speaker). Kegiatan field trip dilaksanakan pada area kawasan Yogyakarta seperti Malioboro, Candi Prambanan, dan The Ramayana Ballet, yang menjadi penyangga budaya kota Yogyakarta.
Secara sederhana, masing-masing siswa dibekali dengan lembar kerja siswa (LKS) pada saat melakukan perjalanan ke Yogyakarta, dengan tujuan untuk memudahkan siswa dalam berinteraksi baik dengan masyarakat lokal maupun internasional. Selain itu, para siswa juga diberikan penyuluhan/pemahaman dan sosialisasi mengenai fungsi cagar budaya bagi masyarakat kota Yogyakarta. (gunawan)
19 Oktober 2009
Delapan Kompetensi Dasar Mengajar
category : Home
Seorang guru professional telah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan keterampilan dasar mengajar. Dalam keterampilan dasar mengajar tersebut ada 8 keterampilan yang dapat digunakan guru selama proses belajar mengajar yaitu; keterampilan bertanya, keterampilan memberikan penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.Guru dan SIswa
category : Home
Kalau anda bertanya kepada para siswa, apa bedanya guru dan siswa maka mereka akan dengan seragam mengatakan kalau guru mengajar dan siswa diajar dan heeeem belajar. Benarkah jawaban para siswa tersebut? Guru adalah orang yang bertugas mendidik dan mentransferkan ilmunya kepada para peserta didiknya. Siswa adalah peserta didik yang berhak mendapatkan bimbingan dari seorang guru. Guru dan siswa adalah satu kesatuan dalam proses pendidikan. Masing-masing berperan dengan fungsi dan tugasnya masing-masing. Guru dan siswa sama-sama memiliki hak dan kewajiban.
Hak seorang guru adalah mengajarkan ilmunya, sedangkan kewajiban seorang guru adalah mentransferkan ilmu yang dimilikinya dengan gaya mengajar yang unik. Anda boleh berbeda dengan saya, karena banyak hak dan kewajiban seorang guru yang bisa dituliskan di sini. tapi intinya guru berhak mendapatkan kesejahtaeraan yang layak setelah segala kewajibannya telah dia penuhi. Sama halnya dengan seorang warga negara yang baik. Dia memiliki kewajiban membayar pajak kepada negara, tetapi setiap warga negara berhak mendapatkan pelayanan yang layak dari negara.
Klik disini untuk melanjutkan »»29 September 2009
Mengenal Internet
category : Home, PengumumanInternet adalah singkatan dari Interconnected network. Internet adalah kumpulan komputer yang saling terhubung satu dengan yang lain dalam satu jaringan. Internet mempunyai 2 peranan yang sangat penting yaitu :
- Sebagai sumber data dan informasi
- Sarana pertukaran data dan informasi
Aplikasi Internet yang berkembang saat ini adalah sebagai berikut:
World Wide Web (www)
World Wide Web atau yang sering disingkat www adalah aplikasi yang paling banyak digunakan dan merupakan aplikasi yang paling penting. www merupakan dokumen internet yang disimpan di sebuah server. Dokumen tersebut dibuat dengan format hypertext dan hypermedia, yaitu Hypertext Markup Language atau biasa disingkat HTML. HTML dapat menghubungkan sebuah dokumen dengan dokumen lainnya.
E-Mail (Electronic Mail)
E-mail adalah aplikasi internet untuk sarana komunikasi surat menyurat dalam bentuk elektronik. Mengirim e-mail sama saja seperti mengirim surat biasa. Kita dapat memasukkan file dokumen, gambar, dan sebagainya ke dalam e-mail.
Mailing List
Mailing list atau yang sering disebut juga milis adalah aplikasi internet yang digunakan sebagai sarana diskusi atau bertukar informasi dalam satu kelompok melalui e-mail. Milis sebenarnya adalah bentuk lain dari e-mail. Milis mempunyai sifat yang sama dengan e-mail.
BAB I: Pengenalan Internet
Diskripsi:
Standar Kompetensi:
Memahami Dasar-dasar Penggunaan Internet/Internet
Kompetensi Dasar:
Memahami Menjelaskan Pengertian Dasar Internet
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini siswa dapat
- Menjelaskan pengertian dasar internet
- Mengerti sejarah internet
- Memahami manfaat internet
BAB II: Sistem Jaringan Internet
Diskripsi:
Standar Kompetensi:
Memahami Dasar-dasar Penggunaan Internet/Intranet
Kompetensi Dasar:
Memahami Dasar-dasar Penggunaan Internet/Intranet
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini siswa dapat
- Memahami dasar-dasar sistem jaringan di internet/intranet
- Mengidentifikasi perangkat keras jaringan komputer
BAB III: Kecepatan Akses Internet
Diskripsi:
Standar Kompetensi:
Memahami Dasar-dasar Penggunaan Internet/Intranet
Kompetensi Dasar:
Mengenal Ukuran Kecepatan Akses Internet Dasar Internet
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini siswa dapat
- Mengenal ukuran kecepatan akses internet
- Memahami factor-faktor yang mempengaruhi kecepatan akses internet
BAB IV: Perangkat Keras Untuk Akses Internet
Diskripsi:
Standar Kompetensi:
Memahami Dasar-dasar Penggunaan Internet/Intranet
Kompetensi Dasar:
Mengidentifikasi Perangkat Keras yang digunakan dalam Akses Internet
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini siswa dapat
- Mengidentifikasi perangkat keras yang digunakan dalam akses internet
- Melakukan instalasi modem
BAB V: Tata Cara Terhubung Ke Internet
Diskripsi:
Standar Kompetensi:
Memahami Dasar-dasar Penggunaan Internet/Intranet
Kompetensi Dasar:
Melakukan Berbagai Cara untuk Memperoleh sambungan Internet/Intranet
Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini siswa dapat
- Melakukan berbagai cara untuk memperoleh sambungan internet/intranet
- Melakukan koneksi dial-up
27 September 2009
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
category : Home
Sebelum kita dapat membahas isu-isu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kita perlu membahas secara lebih dalam isu-isu dan prioritas untuk pendidikan yang bermutu dan tujuannya KBM dalam proses mengarah ke pendidikan yang bermutu. Apakah tujuan KBM adalah untuk menyampaikan informasi tertentu (pengetahuan) atau mengajar salah satu "skill" (keterampilan) kepada pelajarnya? Atau ada tujuan yang lebih luas? Kami masih ingat pada waktu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) baru muncul di Indonesia secara formal. Di lapangan banyak guru sedang bingung. Bingung karena ada beberapa hal termasuk banyak kompetensi yang disebut dalam kurikulum yang bukan kompetensi, atau sangat sulit diukur. Salah satu masalah besar adalah guru-guru bingung karena mereka tidak dapat percaya bahwa mereka akan punya cukup waktu untuk mengajar les masing-masing untuk menyampaikan dan "assess" (menilaikan) begitu banyak kompetensi. Padahal ini bukan masalah karena kita tidak perlu mengajar kompetensi-kompetensi itu masing-masing. Di dalam satu kelas kita dapat mengajar beberapa kompetensi sekalian dan juga assess beberapa kompetensi sekalian. Sebenarnya di setiap kelas kita wajib untuk mengajar sebanyak kompetensi mungkin dalam waktunya bila memakai KBK atau tidak. Apa itu Pendidikan Yang Bermutu? Sebetulnya ada banyak definisi untuk pendidikan yang bermutu tetapi kami merasa bahwa definisi ini dari UNICEF (di bawah) adalah cukup lengkap: Pelajar yang sehat, mendapat makanan bergizi yang cukup dan siap berpartisipasi dalam proses belajar, yang didukung dalam proses pembelajaran oleh keluarga dan linkungannya.
Environment yang sehat, aman, melindungi dan "gender-sensitive", dan menyediakan sumber-sumber pembelajaran dan fasilitas yang cukup.
Konten dalam kurikulum dan bahan pembelajaran yang relevan untuk belajar "basic skills", khusus "literacy, numeracy and skills for life", dan pengetahuan mengenai isu-isu seperti "gender, health (kesehatan), nutrisi, HIV/AIDS prevention and peace (kedamaian)".
Proses-proses di mana guru-guru yang terlatih menggunakan sistem pembelajaran "child centered" di kelas dan sekolah yang di-manage dengan baik dan di mana ada penilaian yang baik untuk melaksanakan pembelajaran dan menurunkan isu-isu perbedaan.
Outcomes yang termasuk pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap, dan berhubungan dengan tujuan-tujuan (goals) nasional untuk pendidikan dan partisipasi sosial yang positif.
Bagaimana kita dapat melaksanakan Pendidikan yang Bermutu di Indonesia?
Yang pertama kita harus sadar bahwa kesehatan adalah isu pendidikan. Itu sebabnya Pendidikan Network mempunyai bagian berita khusus "Pendidikan & Kemiskinan" karena isu-isu kemiskinan dan kesehatan adalah dua faktor yang sangat mempengaruhi mutu pendidikan (untuk semua) di negara kita. "Environmen yang sehat" Puluhan ribu sekolah di negara kita adalah rusak atau ambruk. Kalau kita menuju pendidikan yang bermutu "untuk semua" ini harus sebagai prioritas utama terhadap keadilan di bidang pendidikan. Walapun sumber-sumber pembelajaran dan fasilitas adalah isu yang sangat penting semua siswa-siswi di Indonesia berhak untuk mengakses sekolah yang aman dan nyaman. "Konten dalam kurikulum dan bahan pembelajaran yang relevan untuk belajar basic skills". Kurikulum adalah isu yang terus perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi untuk menghadapi masa depan dengan keberanian dan kreativitas, kalau negara kita berharap kemajuan. Biasanya ada tiga kurikulum sebetulnya; kurikulum nasional, kurikulum daerah (mungkin konten lokal termasuk bahasa), dan kurikulum sekolah (mencerminkan keinginan dan kebutuhan lingkungan sekolah termasuk masyarakat dan industri). Kurikulum sekolah adalah isu yang sangat penting dan dapat di bentukkan dalam kegiatan ekstra-kurikular untuk menambah pembelajaran agama, sosial, kemandirian, keterampilan yang berhubungan dengan industri lokal (kejuruan), dll. Kurikulum sekolah dapat sangat membantu dengan isu-isu mutu SDM. "Proses-proses di mana guru-guru yang terlatih menggunakan sistem pembelajaran child centered" Apa maksudnya "child centered"? Child centered adalah sistem pembelajaran di mana fokus pembelajaran adalah dengan pelajar bukan guru. Guru sebagai fasilitator atau manajer proses pembelajaran. Misalnya di TK guru-guru sering mengajar anak-anak lewat kegiatan mainan. Di dalam kegiatan-kegiatan ini adalah pembelajaran misalnya pembelajaran isu sosial, hitung, bergambar, cerita dalam kata-kata sendiri, keterampilan kreativitas, dll. Di tingkat SD sampai SMP sudah ada banyak contoh dan bukti penghasilan dari proses "Child Centered Learning" yang disebut Pengajaran Aktif, Kreatif, Efektif yang Menyenangkan (PAKEM) atau Pembelajaran Kontekstual di situs Basic Education (MBE). Di tingkat SMU kita masih dapat menyaksikan banyak kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah menengah yang belum Student Centered. Mungkin karena masih banyak guru belum kenal dengan proses, atau seperti kami sudah mendengar di lapangan bahwa guru-guru masih ragu-ragu bahwa mereka dapat selesai menyampaikan kurikulum dalam waktunya kalau menggunakan proses PAKEM. Padahal lewat proses PAKEM siswa-siswi dapat belajar sangat cepat maupun enjoy (nikmat) pembelajaran sambil menambah pembelajaran "life skills" misalnya manajemen, kemandirian, penelitian, dll, sambil belajar topik utama#. #Ingat di atas bahwa kami sebut "di setiap kelas kita wajib untuk mengajar sebanyak kompetensi mungkin dalam waktunya bila memakai KBK atau tidak" Ini adalah salah satu isu yang sangat membedakan sekolah nasional dengan sekolah internasional. Beberapa sekolah nasional sudah melaksanakan proses pembelajaran kontekstual misalnya Madania di Parung, Bogor, Jawa Barat. Di Perguruan Tinggi kita dapat menyaksikan kegiatan belajar mengajar di kebanyakan kelas yang paling pasif. Proses pembelajarannya biasanya sangat 'dosen centered' dengan mahasiswa/i dalam keadaan DM (duduk manis) dan jarang terkait dalam proses pembelajaran. Apakah harus begini? Pasti Tidak! Dosen-dosen, sama dengan guru-guru di sekolah, wajib untuk mengaktifkan mahasiswa/i dalam proses pembelajaran. Kita perlu menggunakan strategi-strategi, walapun kelasnya adalah besar, di mana mahasiswa/i adalah seaktif mungkin dalam proses pembelajaran. Apakah anda yang dosen yang membaca ini pernah ikut program seminar yang ceramah atau pidato sepanjang hari? Apakah anda ingin tidur atau pulang? Sekarang kebanyakan presenter menggunakan laptop dan data projector. Apakah ada bedanya? Setelah dua atau tiga presentasi apa anda ingin tidur atau pulang juga? Sama saja kan? Yang akan paling meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah kalau kita di semua tingkat pendidikan menghidupkan/mengaktifkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), bukan isu seperti teknologi. Teknologi Pendidikan adalah alat bantu untuk di mana ada kesempatan untuk meningkatkan mutu KBM, tetapi teknologinya harus cocok dan tidak perlu terlalu canggih. Kalau kita sering menggunakan teknologi yang sama, bila paling canggih, pelajar kita juga akan cepat mulai bosen. Sering teknologi yang paling membantu tujuan KBM kita adalah yang paling sederhana.
posted by gunawan
Dikutip dari : http://teknologipendidikan.com/kbm.html
16 September 2009
Akreditasi Sekolah
category : Home, PengumumanPihak asesor akan memotret secara menyeluruh proses kegiatan belajar-mengajar (KBM) selama empat tahun yang lampau melalui administrasi dokumen sekolah secara menyeluruh dalam waktu dua hari tersebut.
Berdasarkan realitas itu, bagaimana agar kinerja sekolah benar-benar terpotret secara akurat dan tepat tanpa ada embel-embel apa pun, yang justru dapat menimbulkan efek negatif kelak kemudian hari, maka untuk efektifnya diperlukan komitmen yang kompak secara komprehensif dari masing-masing staf, guru, karyawan, dan peserta didik di bawah koordinasi kepala sekolah.
Adapun solusi yang dapat dicermati sebagai bahan perbandingan untuk menyukseskan program akreditasi sekolah diantaranya adalah menghayati dan melaksanakan dengan benar mulai dari program persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pertama, persiapan. Perlu disadari bahwa komponen persiapan sangat menguras energi dari para karyawan, guru, kepala sekolah, bahkan sampai dengan pengurus komite sekolah guna melengkapi hal-hal yang belum ada.
Persiapan yang paling awal adalah kepala sekolah segera membentuk kepanitiaan. Sembilan guru atau karyawan ditunjuk sebagai ketua subbidang, bertanggung jawab untuk membidangi sembilan subkomponen sekolah.
Setelah ketua sub terbentuk kemudian membagi tugas kepada semua anggota untuk mempersiapkan dan mengumpulkan semua bukti fisik yang menjadi tanggung jawabnya.
Jika bukti fisik belum dibuat, segeralah melengkapinya, mulai dari surat keputusan, program kerja, bukti berupa foto, surat undangan, piagam, sertifikat, hingga notulen, dan lain-lain. Bukti lain yang berkaitan dengan bangunan fisik di antaranya penataan macam-macam ruang dan mengadakan baru jika keuangan memungkinkan.
Perlu kejelian
Pada format persiapan memerlukan kejelian dan kecerdasan panitia untuk mewujudkan bukti fisik yang belum ada. Bukti fisik selama ini sering diabaikan di antara guru yang kurang menghargai pentingnya dokumen.Jadi, para petugas yang membidangi harus bersegera membuat tanpa saling menyalahkan kepada teman yang lain. Di sinilah pentingnya kekompakan dan kerja sama sangat-sangat diperlukan.
Jika bukti fisik dianggap telah mencukupi, perlu diadakan kroscek dokumen-dokumen persiapan dengan mengundang narasumber. Paling tidak dapat menghadirkan narasumber dari tingkat kabupaten, yaitu tim pengawas yang membawahi sekolahnya, dengan seizin kepala sekolah.
Kedua, pelaksanaan. Pelaksanaan adalah penggambaran kegiatan nyata dari tim asesor yang akan menilai kinerja sekolah. Ruang penilaian harus tersedia secara representatif. Ruang tersebut tersedia meja kursi, perlengkapan administrasi, yang dikondisikan secara berurutan dari komponen satu sampai komponen sembilan, dengan ditunggui para ketua subbidang dan dibantu para anggota.
Sebelum penilaian dimulai, semua guru harus mempersiapkan administrasi KBM selengkap-lengkapnya. Hal tersebut karena antara jam pertama sampai dengan jam ketiga, tim asesor secara acak akan masuk dan menilai kinerja guru ke ruang kelas untuk melihat secara langsung proses KBM atau supervisi.
Setelah melakukan supervisi, tim asesor akan memasuki ruang berikutnya untuk mengadakan penilaian administratif secara langsung, dengan tujuan untuk mengecek kebenaran fakta dan data yang ada.
Ketiga, evaluasi. Setelah kegiatan persiapan dan pelaksanaan terlampaui, langkah berikut adalah mengevaluasi pelaksanaan program akreditasi. Dalam forum pembubaran panitia, masing-masing ketua subbidang wajib melaporkan temuan-temuan yang dijumpai dari mulai persiapan dan terlebih temuan-temuan yang dijumpai oleh tim asesor guna ditindaklanjuti pada KBM berikutnya. Personel komponen sekolah harus mau merefleksi diri untuk mengadakan perbaikan-perbaikan dan meningkatkan hal-hal yang telah dipandang baik, untuk mewujudkan pribadi profesional sejalan dengan program sertifikasi guru.
Masalah dana
Tidak kalah pentingnya, untuk suksesnya program tersebut adalah tersedianya dana. Pendanaan dimulai dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi tidaklah sedikit dana yang diperlukan sekolah.
Tanpa disadari dana yang diperlukan dalam pelaksanaan akreditasi sekolah mencapai puluhan juta rupiah. Problem berikutnya adalah tidak tersedianya dana yang menyatakan secara spesifik untuk melaksanakan program akreditasi tersebut. Itulah problem besar yang menganga di depan mata kepala sekolah di tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Berkaca pada realitas tersebut, sudah seharusnya para pengambil kebijakan (stakeholder) di bidang pendidikan dengan penuh tanggung jawab menganggarkan dana akreditasi mulai dari persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Para pelaku pendidikan bertanya-tanya apa implikasinya setelah institusi sekolah diakreditasi?
Adakah kucuran dana yang diperuntukkan pada sekolah yang terakreditasi berdasarkan perolehan nilai A, B, dan atau C?
Bagi semua komponen sekolah, jalan paling sederhana adalah wajib bekerja secara maksimal, penuh dedikasi dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas KBM dan tugas tambahan yang diembannya. Semoga.


















